Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah: Hukum, Sanad, Keutamaan, Niat, dan Panduan Lengkap

Puasa Tarwiyah dan puasa Arafah adalah dua puasa sunnah yang biasa dikerjakan pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Intinya, puasa Arafah memiliki dalil sahih yang kuat, khususnya hadis riwayat Muslim tentang penghapusan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sementara itu, hadis khusus tentang keutamaan puasa Tarwiyah diperselisihkan karena sanadnya bermasalah, bahkan sebagian ulama menilainya sangat lemah atau palsu. Namun, berpuasa pada 8 Dzulhijjah tetap dapat dipahami sebagai bagian dari amal saleh di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, bukan semata-mata bersandar pada hadis khusus Tarwiyah.
Daftar Isi
- Apa itu puasa Tarwiyah dan puasa Arafah?
- Hukum puasa Tarwiyah
- Hukum puasa Arafah
- Sanad dan kualitas hadis puasa Tarwiyah
- Dalil sahih puasa Arafah
- Keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah
- Siapa yang dianjurkan dan tidak dianjurkan?
- Niat dan tata cara pelaksanaan
- Jarang Dibahas
- Checklist praktis sebelum berpuasa
- Kesimpulan
- Tips Mengambil Keputusan
- FAQ
- Referensi
Apa Itu Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah?
Puasa Tarwiyah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Hari ini disebut Tarwiyah karena dalam tradisi haji, hari tersebut berkaitan dengan persiapan jamaah menuju Arafah. Secara bahasa, kata “tarwiyah” sering dikaitkan dengan aktivitas mengambil bekal air atau memikirkan kembali persiapan sebelum puncak haji.
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Hari Arafah adalah hari besar dalam rangkaian ibadah haji, ketika jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Bagi muslim di luar haji, hari ini menjadi kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, puasa, doa, zikir, sedekah, dan taubat.
Keduanya berada dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dalam hadis, amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Karena itu, sekalipun pembahasan sanad khusus Tarwiyah perlu hati-hati, berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah tetap bisa masuk dalam semangat memperbanyak amal saleh pada hari-hari utama tersebut. Hadis tentang keutamaan amal pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis, salah satunya Sunan Ibn Majah.
Hukum Puasa Tarwiyah
Hukum puasa Tarwiyah secara umum dipahami sebagai sunnah oleh sebagian ulama dan masyarakat muslim, terutama karena ia berada dalam rangkaian hari-hari awal Dzulhijjah yang dianjurkan untuk diisi dengan amal saleh. Namun, ketika berbicara tentang “keutamaan khusus” puasa Tarwiyah, seperti klaim bahwa puasa Tarwiyah menghapus dosa setahun, pembahasannya harus lebih hati-hati.
Masalah utamanya bukan pada boleh atau tidaknya berpuasa tanggal 8 Dzulhijjah. Berpuasa pada tanggal tersebut boleh dan bernilai baik selama tidak diyakini berdasarkan hadis palsu secara pasti. Masalahnya ada pada penyandaran keutamaan khusus kepada Nabi jika hadisnya tidak kuat.
Dengan kata lain, ada dua lapis pembahasan. Pertama, puasa pada 8 Dzulhijjah sebagai bagian dari amal saleh di awal Dzulhijjah. Ini memiliki dasar umum yang baik. Kedua, puasa Tarwiyah dengan klaim pahala tertentu berdasarkan hadis khusus. Bagian kedua inilah yang diperdebatkan karena kualitas sanad hadisnya bermasalah.
Sikap yang aman adalah mengatakan: “Puasa tanggal 8 Dzulhijjah dianjurkan sebagai bagian dari amal saleh di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Adapun hadis khusus tentang puasa Tarwiyah menghapus dosa setahun tidak sekuat hadis puasa Arafah.”
Hukum Puasa Arafah
Puasa Arafah hukumnya sunnah muakkadah bagi muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Disebut sunnah muakkadah karena dalilnya kuat dan keutamaannya besar. Hadis paling populer tentang puasa Arafah adalah riwayat Abu Qatadah dalam Sahih Muslim. Dalam hadis tersebut, Nabi ditanya tentang puasa pada hari Arafah, lalu beliau menjelaskan bahwa puasa itu menghapus dosa tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya.
Mayoritas ulama menganjurkan puasa Arafah bagi orang yang tidak berhaji. Namun, bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, puasa Arafah tidak dianjurkan. Sebagian ulama menyebutnya makruh karena jamaah haji membutuhkan kekuatan fisik untuk wukuf, berdoa, berzikir, dan menyelesaikan rangkaian manasik. Penjelasan MUI juga menyebutkan bahwa menurut mayoritas ulama, puasa Arafah sunnah bagi yang tidak berhaji, sedangkan bagi yang berhaji hukumnya makruh.
Inilah perbedaan penting yang sering luput. Puasa Arafah sangat dianjurkan untuk orang yang tidak berada dalam ibadah haji. Tetapi bagi jamaah haji, tidak berpuasa justru lebih sesuai dengan kebutuhan ibadah haji, karena wukuf adalah inti haji dan membutuhkan kondisi tubuh yang kuat.
Sanad dan Kualitas Hadis Puasa Tarwiyah
Hadis yang sering dikutip tentang puasa Tarwiyah berbunyi kurang lebih: “Puasa hari Tarwiyah menghapus dosa setahun, dan puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun.” Hadis ini populer di masyarakat, tetapi para ulama hadis berbeda dalam menilai kualitasnya.
Sebagian sumber menjelaskan bahwa hadis tersebut diriwayatkan melalui jalur yang lemah. Ada pula penilaian yang lebih keras, yaitu bahwa hadis tersebut maudhu atau palsu karena terdapat perawi yang dinilai pendusta. NU Jatim, misalnya, memuat penjelasan bahwa hadis tentang puasa Tarwiyah yang menyebut penghapusan dosa setahun dinilai maudhu karena dalam sanadnya terdapat perawi bermasalah bernama Al-Kalbi.
Di sisi lain, sebagian tradisi fikih tetap membuka ruang pengamalan hadis lemah dalam fadha’ilul a’mal, yaitu keutamaan amal, dengan syarat-syarat tertentu. Syarat yang sering disebut antara lain: kelemahannya tidak parah, berada di bawah dalil umum yang sah, tidak berkaitan dengan akidah atau penetapan hukum halal-haram, dan tidak diyakini secara pasti sebagai sabda Nabi.
Karena itu, perbedaan sikap muncul. Ada yang menolak penyebutan keutamaan khusus Tarwiyah karena menilai hadisnya tidak layak dijadikan dasar. Ada pula yang tetap membolehkan puasa Tarwiyah karena ia berada dalam cakupan umum kesunnahan amal saleh di awal Dzulhijjah, bukan karena berdiri di atas hadis khusus yang kuat.
Sikap ilmiah yang seimbang adalah tidak mudah menyebut semua orang yang berpuasa Tarwiyah sebagai keliru, tetapi juga tidak menyebarkan klaim pahala spesifik tanpa menjelaskan status hadisnya. Jika ingin mengajarkan kepada masyarakat awam, kalimat yang lebih aman adalah: “Berpuasa pada 8 Dzulhijjah baik dilakukan karena termasuk hari utama Dzulhijjah. Adapun hadis khusus tentang pahala puasa Tarwiyah diperselisihkan dan tidak sekuat dalil puasa Arafah.”
Dalil Sahih Puasa Arafah
Berbeda dengan puasa Tarwiyah, puasa Arafah memiliki dasar hadis yang sahih dan sangat jelas. Riwayat Sahih Muslim menyebutkan bahwa ketika Nabi ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab bahwa puasa tersebut menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Keutamaan ini dipahami oleh ulama sebagai penghapusan dosa kecil. Adapun dosa besar tetap membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh, berhenti dari dosa, menyesal, bertekad tidak mengulanginya, dan jika berkaitan dengan hak manusia, wajib menyelesaikan hak tersebut. Ini penting agar pembaca tidak salah paham seolah satu hari puasa otomatis menggugurkan semua bentuk kesalahan tanpa taubat.
Puasa Arafah juga menjadi bagian dari kemuliaan hari Arafah itu sendiri. Hari Arafah adalah hari doa, hari pengampunan, hari pembebasan dari neraka, dan hari ketika jamaah haji berkumpul dalam wukuf. Bagi orang yang tidak berhaji, puasa menjadi cara terbaik untuk ikut menghidupkan hari tersebut dengan ibadah.
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Keutamaan puasa Tarwiyah dapat dilihat dari posisinya sebagai bagian dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Hari-hari ini adalah waktu utama untuk memperbanyak amal saleh. Amal yang bisa dilakukan bukan hanya puasa, tetapi juga salat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak takbir, tahlil, tahmid, istighfar, membantu keluarga, dan memperbaiki hubungan sosial.
Namun, keutamaan khusus Tarwiyah berupa penghapusan dosa setahun perlu disampaikan dengan catatan sanad. Jangan sampai semangat ibadah membuat seseorang menyandarkan secara pasti sesuatu kepada Nabi padahal dalilnya tidak kuat.
Sementara itu, keutamaan puasa Arafah lebih tegas. Pertama, ia menghapus dosa kecil selama dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Kedua, ia menjadi ibadah yang dilakukan pada salah satu hari paling agung dalam Islam. Ketiga, ia melatih kesadaran spiritual menjelang Idul Adha, sehingga Idul Adha tidak hanya dirayakan dengan penyembelihan kurban, tetapi juga dengan taubat dan perbaikan diri.
Siapa yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan?
Puasa Tarwiyah dianjurkan bagi muslim yang mampu berpuasa dan tidak memiliki halangan syar’i. Orang yang sakit, musafir yang berat menjalankan puasa, ibu hamil atau menyusui yang khawatir terhadap kondisi dirinya atau bayinya, serta orang yang memiliki kondisi medis tertentu, sebaiknya mempertimbangkan kemampuan tubuh dan berkonsultasi jika perlu.
Puasa Arafah dianjurkan bagi muslim yang tidak sedang berhaji. Bagi jamaah haji, tidak berpuasa lebih dianjurkan menurut banyak ulama, karena energi mereka dibutuhkan untuk wukuf dan ibadah di Arafah. Ini bukan berarti jamaah haji kehilangan keutamaan, karena mereka sedang berada dalam ibadah haji yang sangat agung.
Ada juga pertanyaan: apakah puasa Arafah harus mengikuti tanggal wukuf di Arab Saudi atau tanggal 9 Dzulhijjah di negara masing-masing? Dalam praktik di Indonesia, banyak ulama dan lembaga keagamaan menjelaskan bahwa puasa Arafah mengikuti penetapan 9 Dzulhijjah di wilayah masing-masing. NU, misalnya, menjelaskan bahwa puasa Arafah tidak mesti selalu berbarengan dengan wukuf jamaah haji karena perbedaan mathla’ atau wilayah rukyat dapat menyebabkan perbedaan tanggal.
Niat dan Tata Cara Puasa Tarwiyah dan Arafah
Tata cara puasa Tarwiyah dan Arafah sama seperti puasa sunnah lainnya. Puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama puasa, seseorang menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan hal-hal yang membatalkan puasa.
Niat puasa Tarwiyah dapat dilafalkan sebagai berikut:
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
Niat puasa Arafah dapat dilafalkan sebagai berikut:
Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Dalam puasa sunnah, jika seseorang lupa berniat pada malam hari, sebagian ulama membolehkan niat pada siang hari sebelum tergelincir matahari, selama sejak fajar ia belum melakukan hal yang membatalkan puasa. Namun, yang lebih baik adalah menata niat sejak malam agar ibadah lebih siap.
Jarang Dibahas
Hal yang jarang dibahas adalah perbedaan antara “melakukan amal” dan “menetapkan klaim pahala khusus”. Berpuasa pada 8 Dzulhijjah adalah amal baik karena berada di waktu mulia. Namun, menyatakan bahwa “pasti menghapus dosa setahun” membutuhkan dalil yang kuat. Di sinilah adab ilmiah diperlukan.
Jarang dibahas juga bahwa keutamaan puasa Arafah bukan alasan untuk meremehkan dosa. Penghapusan dosa dalam hadis tidak boleh dipahami sebagai izin untuk mengulang kesalahan. Justru puasa Arafah seharusnya menjadi momentum memperbaiki salat, menjaga lisan, mengurangi maksiat digital, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, dan memperbanyak doa.
Selain itu, banyak orang hanya fokus pada lapar dan haus, tetapi lupa menjaga kualitas batin. Padahal, inti puasa bukan sekadar tidak makan. Puasa yang baik menahan mata dari hal buruk, menahan lisan dari gibah, menahan emosi, dan menahan hati dari kesombongan.
Checklist Praktis Sebelum Berpuasa
Gunakan checklist sederhana ini agar puasa Tarwiyah dan puasa Arafah lebih terarah:
- Pastikan tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah sesuai kalender hijriah yang diikuti di wilayah Anda.
- Niatkan puasa karena Allah, bukan karena ikut tren.
- Pahami bahwa dalil puasa Arafah lebih kuat daripada hadis khusus Tarwiyah.
- Jika berpuasa Tarwiyah, niatkan sebagai amal saleh di awal Dzulhijjah.
- Siapkan sahur yang cukup, terutama air putih dan makanan bergizi.
- Kurangi aktivitas yang memicu emosi dan gibah.
- Perbanyak doa, istighfar, zikir, dan sedekah.
- Jangan memaksakan puasa jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
- Bagi jamaah haji, prioritaskan kekuatan untuk wukuf.
- Tutup hari dengan berbuka secukupnya dan evaluasi diri.
Tabel Ringkas Perbandingan
| Aspek | Puasa Tarwiyah | Puasa Arafah |
|---|---|---|
| Waktu | 8 Dzulhijjah | 9 Dzulhijjah |
| Hukum umum | Sunnah dalam cakupan amal saleh awal Dzulhijjah | Sunnah muakkadah bagi yang tidak berhaji |
| Dalil khusus | Diperselisihkan, sanad bermasalah | Sahih, diriwayatkan Muslim |
| Keutamaan populer | Sering disebut menghapus dosa setahun, tetapi hadisnya perlu catatan | Menghapus dosa kecil setahun lalu dan setahun akan datang |
| Untuk jamaah haji | Tidak menjadi fokus utama | Tidak dianjurkan saat wukuf menurut banyak ulama |
| Sikap aman | Boleh diamalkan sebagai puasa awal Dzulhijjah | Sangat dianjurkan bagi non-jamaah haji |
Kesimpulan
Puasa Tarwiyah dan puasa Arafah sama-sama berada pada waktu yang sangat utama, yaitu awal Dzulhijjah. Namun, keduanya tidak sama dari sisi kekuatan dalil khusus. Puasa Arafah memiliki dasar hadis sahih yang jelas dan sangat dianjurkan bagi muslim yang tidak sedang berhaji. Keutamaannya besar, yaitu penghapusan dosa kecil setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.
Puasa Tarwiyah tetap boleh dikerjakan sebagai bagian dari amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Akan tetapi, klaim keutamaan khusus puasa Tarwiyah perlu disampaikan dengan hati-hati karena sanad hadisnya diperselisihkan, bahkan dinilai bermasalah oleh sejumlah ulama. Sikap terbaik adalah tetap semangat beribadah, tetapi jujur terhadap kualitas dalil.
Dengan pemahaman seperti ini, seorang muslim dapat menjalankan puasa Tarwiyah dan puasa Arafah secara lebih tenang, ilmiah, dan proporsional: beramal dengan semangat, berdalil dengan hati-hati, dan menjaga adab dalam menyikapi perbedaan pendapat.
Tips Mengambil Keputusan
- Jika Anda ingin berpuasa pada 8 Dzulhijjah, lakukan sebagai bagian dari amal saleh awal Dzulhijjah, bukan karena meyakini pasti ada pahala khusus dari hadis yang lemah.
- Jika Anda hanya mampu memilih satu hari, prioritaskan puasa Arafah karena dalilnya sahih dan keutamaannya sangat jelas.
- Jika Anda sedang berhaji, pilih tidak berpuasa Arafah agar kuat menjalankan wukuf dan ibadah haji.
- Jika Anda sakit, hamil, menyusui, atau memiliki kondisi medis tertentu, cek kemampuan tubuh dan jangan memaksakan diri.
- Jika masih ragu tentang tanggal pelaksanaan, ikuti keputusan otoritas keagamaan yang Anda percaya di wilayah Anda.
FAQ
Apakah puasa Tarwiyah wajib?
Tidak. Puasa Tarwiyah bukan puasa wajib. Ia termasuk puasa sunnah yang biasa dilakukan pada 8 Dzulhijjah.
Apakah hadis puasa Tarwiyah sahih?
Hadis khusus tentang keutamaan puasa Tarwiyah diperselisihkan dan banyak dinilai lemah, bahkan ada yang menilainya palsu karena masalah pada sanad. Karena itu, klaim pahala khususnya perlu disampaikan dengan hati-hati.
Apakah boleh tetap puasa Tarwiyah?
Boleh, selama diniatkan sebagai amal saleh di awal Dzulhijjah dan tidak meyakini secara pasti keutamaan khusus yang bersandar pada hadis bermasalah.
Apa hukum puasa Arafah?
Puasa Arafah hukumnya sunnah muakkadah bagi muslim yang tidak sedang berhaji.
Apa keutamaan puasa Arafah?
Keutamaan puasa Arafah adalah penghapusan dosa kecil setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, berdasarkan hadis sahih riwayat Muslim.
Apakah jamaah haji dianjurkan puasa Arafah?
Tidak. Bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, banyak ulama menyatakan tidak berpuasa lebih utama agar tubuh kuat untuk berdoa dan beribadah.
Apakah puasa Arafah mengikuti Arab Saudi?
Dalam banyak penjelasan ulama di Indonesia, puasa Arafah mengikuti tanggal 9 Dzulhijjah di wilayah masing-masing, bukan harus selalu sama dengan waktu wukuf di Arab Saudi.
Bolehkah niat puasa sunnah pada pagi hari?
Menurut sebagian ulama, puasa sunnah boleh diniatkan pada pagi atau siang sebelum tergelincir matahari, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak fajar.
Referensi
Sahih Muslim 1162b – https://sunnah.com/muslim:1162b
Sunan Ibn Majah 1727 – https://sunnah.com/ibnmajah:1727
Status Hadis Puasa Tarwiyah Palsu, Lantas Bagaimana Hukum Puasanya – https://jatim.nu.or.id/keislaman/status-hadis-puasa-tarwiyah-palsu-lantas-bagaimana-hukum-puasanya-4RZf4
Hukum Puasa Arafah dan Keutamaannya – https://muisulsel.or.id/hukum-puasa-arafah-dan-keutamaannya/
Puasa Arafah Tidak Harus Bareng dengan Wukuf Jamaah Haji – https://islam.nu.or.id/syariah/puasa-arafah-tidak-harus-bareng-dengan-wukuf-jamaah-haji-ini-penjelasannya-pNWS3
File Arafat Pilgrims – https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Arafat_pilgrims.jpg

![[David Roni meminta Pemko Medan optimalkan Perda Penanggulangan Kemiskinan untuk menjamin hak dasar]](https://pantauindonesiaterkini.com/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260208-WA0100.jpg)
![[BMKG Deteksi 5 Titik Panas di Aceh, Warga Waspada Hujan Lebat]](https://pantauindonesiaterkini.com/wp-content/uploads/2026/02/20260208-img-20260208-104059-images-600x315.jpg.webp.webp.webp)