Pabrik Slab Di Cilegon: Napas Baru Untuk Krakatau Steel
Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana membangun pabrik hilirisasi baja di Cilegon, Banten sebagai bagian dari upaya penyehatan bisnis PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Rencana ini diumumkan oleh Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, saat berbicara kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (4/1).
Danantara menyatakan akan memulai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk pabrik slab yang selama ini barangnya sering diimpor, dan proyek ini merupakan salah satu dari 21 proyek hilirisasi yang tengah digarap secara mandiri. Menurut Dony, perbaikan kondisi keuangan KRAS dan perapihan model bisnis sudah berjalan sehingga keterlibatan di sektor upstream menjadi langkah berikutnya.
Langkah Danantara juga terkait arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pembangunan basis industri sebagai pendorong pertumbuhan, sehingga proyek pabrik slab di Cilegon dimaksudkan untuk memperkuat rantai nilai baja nasional. Selain itu, KRAS sebelumnya menerima pinjaman dari PT Danantara Asset Management sebesar Rp 4,93 triliun untuk memperkuat likuiditas dan mendukung proses restrukturisasi.
Fakta Inti Berita
Danantara, alias Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara, akan menyalurkan investasi ke pabrik hilirisasi baja di Cilegon, Banten sebagai bagian dari restrukturisasi KRAS.
Peletakan batu pertama atau groundbreaking pabrik slab disebut sebagai tahap awal; selama ini kebutuhan slab industri baja nasional masih dipenuhi lewat impor.
Dony Oskaria menyebut Danantara sedang menggarap 21 proyek hilirisasi secara mandiri dan menyatakan kondisi keuangan Krakatau Steel “sudah mulai sehat” setelah perapihan model bisnis.
KRAS juga mendapat pinjaman Rp 4,93 triliun dari PT Danantara Asset Management untuk mendukung penyehatan keuangan dan operasional perusahaan.
Rencana Pabrik Cilegon
Pada tahap awal, Danantara menargetkan pembangunan pabrik slab di Cilegon untuk menggantikan impor slab yang selama ini menjadi kebutuhan industri baja nasional. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Dony Oskaria di Kompleks Parlemen Senayan pada Rabu (4/1).
Setelah pembangunan sisi hulu berjalan, Danantara berencana lanjut ke investasi sisi hilir (downstream), yang sesuai dengan fokus industrialisasi yang dikaitkan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto tentang basis pertumbuhan industri.
Status Keuangan KRAS
Manajemen KRAS menyatakan kondisi keuangan sudah mulai sehat setelah serangkaian transformasi operasional, termasuk efisiensi biaya tetap dan penutupan lini bisnis yang merugi. Pernyataan ini disampaikan oleh Dony saat menjelaskan peran Danantara dalam proses penyehatan.
Selain itu, pinjaman Rp 4,93 triliun dari PT Danantara Asset Management disebut akan memperkuat likuiditas KRAS sehingga kegiatan operasional dapat berjalan lebih optimal dan diharapkan menurunkan biaya produksi.
Tekanan Baja Impor
Direktur Utama KRAS, Akbar Djohan, mengeluhkan dominasi produk baja murah asal Cina yang menguasai pasar Indonesia dalam setahun terakhir, dan masalah ini dibawa dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR. Akbar menyebut gempuran impor tersebut menyebabkan dua perusahaan baja nasional menghentikan operasi tahun lalu.
Akbar juga menyoroti relokasi pabrik Cina ke Indonesia dalam 10–12 tahun terakhir dan menyebut penutupan pabrik patungan Krakatau Steel dengan Osaka Steel serta gulung tikarnya pabrik PT Ispat Indo di Surabaya sebagai dampak persaingan harga impor.
Dampak Pada Industri
Menurut manajemen KRAS, utilisasi kapasitas industri baja nasional rata-rata masih di bawah 60%, kondisi yang diperparah oleh masuknya baja murah dari Cina meski ada proyek strategis nasional yang seharusnya menyokong permintaan. Akbar menyinggung proyek 3 juta rumah, program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan PSN lainnya sebagai potensi pasar.
Dengan hadirnya pabrik slab di Cilegon, harapannya adalah ketersediaan slab domestik yang bisa menurunkan biaya produksi dan meningkatkan daya saing produk KRAS di pasar lokal, meskipun hasil akhirnya tergantung pada implementasi investasi dan respons pasar terhadap produk lokal.
Apa Yang Bisa Dilakukan
- Pantau pengumuman resmi mengenai jadwal groundbreaking dan kapasitas pabrik, karena dalam sumber ini belum disebutkan jadwal pasti.
- Perhatikan langkah-langkah efisiensi KRAS seperti penutupan lini negatif dan fokus pada segmen margin tinggi untuk menilai pemulihan operasional.
- Untuk pembuat kebijakan: evaluasi kebijakan proteksi dagang dan lokalisasi yang mendukung hilirisasi baja agar utilisasi kapasitas nasional meningkat.
- Untuk investor dan pemasok: awasi realisasi investasi Danantara dan laporan keuangan KRAS pasca-pinjaman Rp 4,93 triliun.
FAQ Singkat
Siapa yang membangun pabrik di Cilegon?
Danantara (Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara) berencana membangun pabrik hilirisasi baja di Cilegon, Banten.Apa tujuan utama pembangunan pabrik ini?
Tujuan awal adalah menyediakan produksi slab domestik yang selama ini masih diimpor, sebagai bagian dari penyehatan dan restrukturisasi KRAS.Berapa dana yang telah masuk ke KRAS dari Danantara?
KRAS mendapatkan pinjaman dari PT Danantara Asset Management sebesar Rp 4,93 triliun untuk mendukung restrukturisasi.Mengapa KRAS mengalami tekanan pasar?
Direktur Utama KRAS menyebut dominasi baja murah dari Cina dan relokasi pabrik sebagai salah satu penyebab turunnya daya saing dan utilisasi kapasitas di bawah 60%.- Kapan groundbreaking akan berlangsung?
Dalam sumber ini belum disebutkan jadwal pasti untuk peletakan batu pertama atau groundbreaking pabrik slab.
Disclaimer Penulis
Tulisan ini disusun dari sumber yang disebutkan dan pemahaman penulis.
Sebagian isi berupa sudut pandang subjektif penulis.
Untuk keputusan penting, rujuk informasi resmi.

Leave a Reply